Matematika, Diantara Dunia Nyata dan Dunia Ghaib

April 19, 2018
Matematika, Diantara Dunia Nyata dan Dunia Ghaib

Keberadaan matematika diantara dunia nyata dan dunia ghaib, benarkah?

Matematika dikatakan berada di dunia tak nyata dikarenakan objek matematika itu bersifat abstrak, sehingga objek matematika itu bukanlah suatu "penampakan". Namun demikian sifat abstraksi dari ilmu matematiki itu dapat kita wujudkan kedalam dunia nyata dalam bentuk yang dinamakan dengan istilah "aplikasi". Karenanya matematika itu merupakan abtraksi dunia nyata, dimana objek matematika itu bersifat abtrak dan disajikan menggunakan bahasa simbol.

Diantara syahadah dan ghaibiyah, maka dengan demikian ia bersifat "ditengah-tengah", maksudnya diantara dunia nyata dan gaib, abstrak dan non abstrak. Diperlukan suatu pendekatan yang rasionalis, logis (bayani dan burhani), dan empiris untuk memahami objek nyata dari matematika. Sedangkan pendekatan yang bersifat imajinatif, metafisis (irfani), dan ituitif, diperlukan untuk memahami matematika dalam bentuk objek yang nyata. Letak kekuatan utama dari matematika terletak pada intuisi maupun imajinasi yang selanjutnya diterima setelah dilakukan pembuktian secara logis atau deduktif. Maka dari itu dalam mempelajari matematika perlu dilakukannya penggabungan dari ketiganya, yaitu, bayani, burhani, dan irfani. Paradigma berpikir seperti ini merupakan paradigma yang bisa disebut sebagai paradigma ulul albab.

Dalam perspektif islam, ilmuan sendiri merupakan sosok yang dengan cara bersamaan mengembangkan potensi dari dzikir dan fikir guna menghasilkan suatu amalan sholih yang didalam Al Qur'an yang disebut dengan Ulul Albab. Potensi tersebut memiliki peranan yang sangat penting didalam menghadapi objek yang bersifat suprarasional, serta mampu untuk mempertajam kemampuan berpikir intuitif, spriritual, dan emosional. Potensi fikir memililiki peran untuk menghadapi objek rasional, sedangkan dzikir mampu mewakili aktifitas dalam aspek ghaibiyah, dan fikir sendiri mampu mewakili aspek aktivitas syahadah. Paradigma yang disebut dengan Ulul Albab ini bisa digunakan pada pembelajaran matematika. Intelektualitas saja tak mampu untuk mempelajari matematika, melainkan perlunya dukungan yang secara bersamaan dengan kemampuan spiritual dan emosional. Dalam matematika, pola pikir logis dan deduktif begitu tergantung pada kemampuan intuitif dan kemampuan imajinatif.


Dalam Pembelajaran matematika bahwa perlunay dilakuakn dalam konteks yang menyenangkan dengan melaluli aktivitas yang dinamakan dengan bermain (learning by doing), sebagaimana yang dikemukakan teori-teori barat pada kenyataanya terkadang berakibat siswa hanya mengingat bermainnya saja, sehingga tidak efisien. Teori-teori tersebut mengakui bahwa emosi begitu memiliki pengaruh yang cukup pesar dalam pembelajaran matematika, artinya emosi sangat dipengaruhi oleh spiritual. Inilah perihal yang tidak dipahami oleh orang-orang barat. Proses berpikir intelektual bagaimanakah mungkin bisa maksimal apabila emosinal atau perasaan sedang tak stabil? Perasaan itu apakah bisa dibohingi dengan kegiatan bermain yang menyenangkan? Bisakah berkonsentrasi dalam belajar jika menjadi beban pikiran?


Kemampuan untk berpikir dengan jernih (intelektual) atau kemampuan untuk berkonsentrasi begitu dipengaruhi oleh emosional (perassan). Dan emosinal sendiri dipengaruhi olah pemahaman mengenai keagamaan (spiritual). Jika hati merasa tenang dan lapang, maka pikiran pun akan memiliki kemampuan untuk beraktivitas (belajar) secara maksimal pula. Dengan berdzkikir, maka ketenangan hati sesuai dengan tuntunan Al Qur'an maka akan tercapai. Ini sejalan dengan firman Allah SWT yang terdapat dalam Al Qur'an surat Ar Ra'd ayat 28. Tawakkal, sabar, qana'ah, dan ridha Allah SWT merupakan modal utama untuk mencapai kententeraman serta ketenangan hati. Kecerdasan spiritual dapat diwujudkan dengan konsisten atau istiqamah, keihklasan atau sicerity, totality atau kaffah, tawazun atau balance, dan ihsan atau integrity and comprehensive, maka kesemuanya itu akan mengarah pada perilaku yang berakhlakul karimah.

Artikel Terkait

Blog ini dibuat karena hobi saya dengan blogging dan sebagai media berbagi Tips dan Konsep Pembelajaran Matematika .


Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

No comments